
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026: Menumbuhkan Cinta Bahasa, Merawat Identitas Budaya
CIAMIS – Bahasa ibu bukan sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas, budaya, dan jati diri sebuah generasi. Semangat inilah yang diwujudkan melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SD Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis sebagai ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan, kreativitas, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa dan budaya daerah.
Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 1 Cijeungjing, Kamis (27/8/2026) ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, Dr. Erwan Darmawan, S.STP., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa FTBI tidak semata-mata menjadi ajang perlombaan, tetapi merupakan bagian dari upaya bersama untuk menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah melalui penguatan kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu.
Melalui FTBI, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengenal, menggunakan, sekaligus mengekspresikan kemampuan berbahasa dan bersastra daerah secara kreatif. Sebanyak tujuh mata lomba diselenggarakan dalam kegiatan ini, yaitu Ngadongéng, Biantara, Maca Sajak, Nembang Pupuh, Borangan, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, serta Ngarang Carpon. Beragam cabang tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan bakat sekaligus semakin dekat dengan kekayaan bahasa dan sastra Sunda.
Lebih dari sekadar mencari juara, FTBI menjadi momentum untuk menanamkan nilai bahwa mencintai bahasa daerah berarti turut menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, kemampuan generasi muda untuk mengenal dan menghargai bahasa ibunya menjadi modal penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
Dengan semangat kebersamaan, kreativitas, dan kompetisi yang sehat, kegiatan yang dilaksanakan oleh KKG SD Ciamis ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya terampil berbahasa dan bersastra daerah, tetapi juga memiliki rasa bangga terhadap bahasa ibu serta kekayaan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.
Dari bahasa, tumbuh rasa. Dari budaya, lahir jati diri. Dari generasi muda, warisan budaya terus hidup.





